Welcome to Sabhawana.Com
  Welcome Anonymous!  
Sep 10, 2010 

    

    Main Menuoem softwarecheap Adobe Acrobat
· Home
· My Account
· Administration
· Logout

Modules:
· News
· AvantGo
· Submit News
· Forum
· Gallery #1
· Gallery #2

Articles:
· Mountaineering
· Climbing
· Caving
· Rafting
· Diving

Others:
· Search
· Topics
· Top List
· Web Links
· Statistics
· Recommend Us
· Download

    

    Categories Menu
· Caving (Jun 03, 2010)
· Climbing (Nov 09, 2009)
· Cycling (Apr 01, 2009)
· diving (Dec 02, 2009)
· Mountain (Aug 18, 2010)
· National Park (Aug 10, 2010)
· Rafting (Oct 23, 2009)

    Past Articles
Thursday, June 10
·Vanaprastha Gelar Gerakan di Gunung Lawu (0)
Thursday, June 03
·Nguluran: Gua di bibir tebing (0)
Wednesday, June 02
·Maluku coral reefs need optimal management (0)
·Hutan Dirambah, Daftar Burung Langka Bertambah (0)
Wednesday, May 26
·Anak AS Berusia 13 Tahun Pendaki Termuda Everest (0)
 Older Articles

    
twitter

    
tnol

    Languages
Select interface language:



This is Topic: Environment
Following are the News Items published under this Topic.


See all


  Orangutan Terdesak ke Gunung
Posted by Admin on Jul 22, 2010(123 Reads)
EnvironmentDENPASAR, KOMPAS.com - Populasi orangutan terus terus mengalami tekanan karena habitatnya terus berkurang akibat pembukaan lahan. Makhluk primata eksotis khas Indonesia itu pun terpaksa bertahan di habitat yang jauh dari manusia. Bahkan diperkirakan ada kecenderungan populasi orangutan mulai berpindah dari kawasan rendah ke wilayah pegunungan yang lebih tinggi.

Misalnya pada orangutan Sumatera (Pongo abelii) yang hidup di Pakpak Barat dan Dairi, dua wilayah di bagian barat Danau Toba, Sumatera Utara. Penemuan orangutan di kawasan tersebut cukup mengejutkan karena umumnya orangutan Sumatera hidup di ketinggian 0-500 meter. Namun, ternyata banyak ditemukan di kawasan Batu Ardan dan Siranggas hingga ketinggian 1200 meter.
Read more... (1658 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Gletser Himalaya Menyusut
Posted by Admin on Jul 22, 2010(140 Reads)
EnvironmentREPUBLIKA.CO.ID,Ketika pendaki legendaris Inggris George Mallory mengambil gambarnya pada 1921 mengenai wajah utara Mount Everest, gletser perkasa yang berbentuk sungai itu dan berkelok-kelok di bawah kaki tampaknya abadi.Setelah beberapa dasawarsa polusi dan belakangan pemanasan global, pendaki gunung modern David Breashears telah kembali mengambil gambar di tempat yang sama, dan membuktikan kenyataan yang mengkhawatirkan.

Bukan mendapatkan gambar lapisan es putih yang keras dan berbentuk S seperti yang disaksikan oleh Mallory sebelum ia meninggal di Mount Everest, yang ditaklukkannya, Main Rongbuk Glacier saat ini menyusut dan merana.Gelombang beku puncak es --banyak di antaranya seukuran gedung kantor-- memang masih ada. Tetapi semuanya jauh lebih sedikit, lebih rendah dan berada di jalur sempit.
Read more... (4204 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  20 Tahun Lagi Gletser Papua Hilang
Posted by Admin on Jun 28, 2010(164 Reads)
EnvironmentTimika (ANTARA News) - Pimpinan kelompok peneliti inti es Papua, Prof Lonnie G. Thompson, dari Ohio State University memperkirakan dalam waktu 20 tahun hingga 30 tahun ke depan gletser di Gunung Cartensz, dekat Puncak Jaya, Papua akan hilang sebagai akibat dari pemanasan global.

"Hampir pasti di sini dan di tempat-tempat tropis yang lain kira-kira dalam 30 tahun gletser akan hilang akibat perubahan iklim," kata Lonnie Thompson kepada ANTARA di Timika, Sabtu.
Read more... (3105 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Hutan lindung dibabat, warga protes
Posted by Admin on Jun 15, 2010(201 Reads)
EnvironmentPasuruan - Surya- Ratusan pohon yang masuk kawasan hutan lindung di di kaki Gunung Welirang, tepatnya di Kelurahan Pecalukan, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, dibabati. Pelakunya belum diketahui, namun hutan lindung itu ternyata milik PT Kusuma Raya Utama yang diperoleh dari tukar guling dengan Perhutani.

Karena hutan yang dibabati tersebut bagi masyarakat sekitarnya merupakan sumber kehidupan terutama untuk air bersih, tentu saja membuat warga protes keras.
Read more... (830 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Vanaprastha Gelar Gerakan di Gunung Lawu
Posted by Admin on Jun 10, 2010(401 Reads)
EnvironmentJAKARTA, KOMPAS.com- Sebanyak 47 orang aktivis lingkungan dari Vanaprastha, Senin (7/6/2010), petang sampai di Jakarta, setelah melakukan Gerakan Lingkungan Bersih selama dua hari di Gunung Lawu (3.265 mdpl), Jawa Tengah. Berkarung-karung sampah anorganik di puncak dan sepanjang jalur yang dilewati berhasil dibawa turun untuk dimusnahkan.
Ketua Umum Vanaprastha, Adhyaksa Dault, mengatakan, Gerakan Lingkungan Bersih di Gunung Lawu merupakan aksi nyata menyelamatkan lingkungan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup, yang jatuh setiap tanggal 5 Juni. "Selain membersihkan lingkungan gunung dari sampah, para peserta juga memberikan advokasi kepada para pendaki dan masyarakat," katanya, Senin (7/6) di Jakarta.
Read more... (1643 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Maluku coral reefs need optimal management
Posted by Admin on Jun 02, 2010(502 Reads)
EnvironmentAmbon, Maluku (ANTARA News) - Maluku`s coral reef potentials should be managed well and optimally to support the province`s tourism development, coastal area management spokesman Bob Wenno said Friday.

"Maluku should follow the example of North Sulawesi and Papua which are are optimally managing their coral reefs in the Bunaken marine park and Raja Ampat marine park respectively for tourism," Bob Wenno said.
Read more... (1839 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Hutan Dirambah, Daftar Burung Langka Bertambah
Posted by Admin on Jun 02, 2010(501 Reads)
EnvironmentBogor (ANTARA News) - Daftar burung yang terancam punah di Indonesia akan terus bertambah seiring dengan maraknya perburuan dan perambahan hutan di Indonesia, kata peneliti Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Dewi M. Prawiradilaga,MSc di Bogor, Selasa.

Menurut pakar satwa burung LIPI tersebut, perambahan hutan, perburuan, dan juga polusi udara di sejumlah tempat di Indonesia sangat berpengaruh pada populasi jenis-jenis burung tertentu.
Read more... (2055 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  37 Million of People Surrounding The Mountain Depend on Sumarto’s Shoulder
Posted by Admin on May 22, 2010(349 Reads)
EnvironmentHis duty is extremely hard, to support the life of some 37 million people who live below. Just imagine that the ecosystem of some areas including Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, and Bekasi), Bandung, Sukabumi, Cianjur and some nearby areas have to be maintained. If something bad happens to the forest in the Gunung Gede Pangrango National Park (GGPNP) then those areas will be hit by flood and landslide. How horrible...

It was Sumarto Suharno is the man behind the hard duty. He has been the Head of the Nature Conservation Berau of the Gunung Gede Pangrango National Park (GGPNP) of West Java Province for a year. To TNOL, the father of three children and the husband of Darmastuti Nugroho Sumarto was simply explaining some efforts to be conducted to maintain and preserve ecosystem in GGPNP.
Read more... (3283 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Dari Bali Untuk Dunia
Posted by Admin on Apr 22, 2010(194 Reads)
EnvironmentINDONESIA kini tengah berjuang untuk mewujudkan bentuk kontribusi dan kepedulian sosial yang tidak untuk bagi Indonesia namun bagi dunia, yaitu dengan menjadikan tanggal 21 Maret sebagai Wold Silent Day (Hari Hening Sedunia).

World Silent Day merupakan sebuah gerakan untuk mengurangi aktifitas yang mengeluarkan sumber daya seperti menyalakan listrik dan mengendarai kendaraan bermotor selama 4 jam yang dimulai pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengurangan ancaman pemanasan global.
Read more... (2363 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page

  Adat Berbasis Lingkungan di Ciomas
Posted by Admin on Apr 20, 2010(219 Reads)
Environment(Ciamis/Greeners). Kehidupan modern tak selamanya mampu menyelamatkan lingkungan hidup justru sebaliknya. Hal tersebut membuat beberapa masyarakat adat yang tetap berpegang teguh pada adatnya untuk menjaga lingkungan sekitar. Seperti halnya kawasan Ciptagelar (Sukabumi) atau Baduy (Kanekes-Banten), warga desa Ciomas di Kabupaten Ciamis pun masih menjaga teguh adat untuk menjaga lingkungan.

Dibawah kewibawaan sesepuh, Siti Maryam (mak Iyam), saat ini warga Ciomas berupaya untuk tetap menjaga adat istiadat yang pada dasarnya adalah kearifan lokal yang mereka miliki. Sari Wahjuni, dari Pengasuh Bumi (PB), menuturkan masyarakat ini memiliki suatu sistem yang diturunkan dari generasi sebelumnya untuk menjaga lingkungan.
Read more... (7143 bytes more) comments? Send this story to a friend Printer friendly page



Web site powered by Ekowisata Natural
This web site was made with PostNuke, a web portal system written in PHP. PostNuke is Free Software released under the GNU/GPL license.
You can syndicate our news using the file backend.php