Wawancara dgn Etti Hedrawati

Minggu, 15 Agustus 2004
Agung Etti Hendrawati

Rekor Berikutnya: Segera Punya Anak

Atlet panjat tebing putri asal Yogyakarta, Agung Etti Hendrawati, biasa mengukir prestasi gemilang. Namanya besar bukan hanya di tingkat nasional, tapi juga di tingkat dunia. Prestasi besar terakhir Eta, panggilan akrabnya, ditorehkan dalam Kejuaraan Dunia Panjat Tebing Speed Rock di Val Daone, Italia, pada 17-18 Juli 2004.

Dia memecahkan rekor dunia baru pada nomor speed climbing. Eta membukukan catatan waktu 27,43 detik, lebih tajam dibanding rekor lama milik Elena Repko (Ukraina) pada tahun lalu, 30,01 detik. Rekor dunia baru itu dicapai dalam semifinal. Sayangnya, saat final penampilannya justru antiklimaks. Dia hanya menempati posisi kedua diapit dua atlet Rusia yang merebut gelar pemenang pertama dan ketiga.

Meski lagu Indonesia Raya tak dikumandangkan, hati Eta pun tersentuh karena sempat memegang bendera Merah Putih. ''Ada perasaan haru dan bangga bisa mengibarkan bendera Merah Putih di negeri orang,'' kata perempuan berjilbab ini. Mengaku sering cengengesan saat upacara bendera pada masa sekolah, Eta belakangan sering melelehkan air mata bila memenangkan kejuaraan di mancanegara. ''Saya sempat berpikir apakah seperti ini rasanya para pejuang kemerdekaan dulu ketika berhasil mengusir penjajah?''
renung Eta.

Menang dan dielu-elukan penonton biasa dialami Eta di luar negeri. Tapi, setibanya kembali di Tanah Air selalu tak ada yang menyambut. Ironisnya, dia justru sering disangka Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang pulang kampung.

Biasa berlaga di tingkat dunia, untuk turun dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) XVI di Palembang, Sumatra Selatan, bulan depan, Eta pun tetap mempersiapkan diri dengan tekun. Di sela-sela latihannya di Kampus STTNAS Yogya, Eta menuturkan kiprahnya sebagai atlet panjat tebing koresponden Republika Yogyakarta, Zainul Munasichin. Saat wawancara dia didampingi suaminya, Nur Rohman Rosyid, yangf juiga atlet panjat tebing. Berikut petikannya:

Apa yang membuat Anda tertarik pada olahraga panjat tebing?
Saya termasuk orang yang suka tantangan. Sebelum menggeluti panjat tebing, saya sudah naik turun gunung bersama rekan-rekan pecinta alam. Bagi saya panjat tebing merupakan salah satu olahraga paling berisiko. Sebab, jika tidak hati-hati bisa cidera bahkan ada yang sampai menemui ajal. Dibutuhkan fisik yang kuat, kematangan mental, dan kecermatan untuk bisa secepat mungkin menuju puncak.

Sejak kapan Anda tertarik dengan panjat tebing?
Pertengahan tahun 1993. Saat itu rekan-rekan saya pecinta alam mengajak saya latihan panjat tebing. Kata mereka, menjadi aktivis pecinta alam tidak lengkap jika belum memiliki kemampuan panjat tebing. Istilahnya sudah satu paket begitu.

Sebagai perempuan, pernahkah terlintas bahwa olahraga ini termasuk olahraga keras, yang identik dengan laki-laki?
Nggak pernah tuh. Karena, sebelum ini saya juga sudah aktif mendaki gunung bersama rekan-rekan pecinta alam, yang sebagian besar adalah laki-laki. Jadi, biasa saja.

Persepsi keluarga bagaimana?
Memang sempat orang tua mengingatkan saya soal ini. Mereka menganggap dunia panjat tebing dan pecinta alam, termasuk rawan. Sempat muncul persepsi negatif, misalnya komunitas pecinta alam sukanya minum-minumam keras dan pergaulannya cukup bebas. Tapi, saya berhasil menepis semua itu.

Suami Anda tidak keberatan dengan ini?
Justru yang men-support saya selama ini adalah suami. Ia memberikan apresiasi cukup tinggi terhadap dunia olahraga yang saya geluti. Hampir selalu, setiap saya latihan, dia ada di samping saya. Kami berdua sudah saling memahami profesi masing-masing. Meski begitu, saya juga tidak melupakan tugas saya sebagai ibu rumah tangga. Bahkan, ia selalu mengingatkan agar tidak suka memaksakan kehendak ketika saya sedang capek dan sakit. Saya, memang seringkali tidak menghiraukan kondisi fisik. Kalau sudah latihan, sering lupa hal itu. Dan, suami saya berperan besar menjaga stabilitas latihan saya.

Eta dilahirkan di Gunung Kidul, salah satu kabupaten di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang sering dilanda kekeringan. Kerasnya lahan di sana, sepertinya membentuk jiwa Eta untuk tidak pantang menyerah.
Meski, hanya lulus SMU di SMA I Wonosari Gunung Kidul, pergaulannya tak terbatas. Berkat kerja keras dan prestasi yang diraihnya, saat ini ia dipercaya menjadi instruktur panjat tebing di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Ia melatih bersama suaminya, Nur Rohman Rosyid, yang juga menjadi staf pengajar di perguruan tinggi itu.
Prestasi membanggakan yang ia raih selama mengikuti kejuaraan dunia antara lain, juara I X-Games 2000 di San Francisco lalu disusul juara II kejuaraan dunia panjat tebing Kuala Lumpur 2001. Posisi kedua juga dimenangkannya pada kejuaraan dunia panjat tebing di Singapore 2002, di Senzhen, Cina, 2003, dan terakhir di Italia, Juli 2004.

Kapan Anda mulai aktif mengikuti kejuaraan panjat tebing?
Agustus tahun 1993, saya sudah ikut kejuaraan pemula di Malang dan mendapat nomor empat. Saya juga sempat kaget, tidak menyangka bisa menembus empat besar. Dari sinilah, saya baru sadar ternyata saya punya potensi di dunia ini. Sekaligus, menambah kecintaan saya terhadap panjat tebing.

Sekarang, Anda sudah masuk dalam jajaran atlet panjat tebing papan atas di dunia. Kalau boleh tahu, butuh berapa lama untuk bisa mencapai karier itu?
Saya terjun di olahraga panjat tebing pada tahun 1993. Saya ikut kejuaraan dunia panjat tebing pada tahun 2000. Artinya, butuh waktu tujuh tahun untuk bisa masuk ke event internasional. Tapi, sebelum itu saya sudah ikut kejuaraan tingkat regional maupun nasional.

Secara spesifik Anda butuh waktu berapa lama untuk sampai bisa memetik buah keringat dari latihan panjang Anda itu?
Tidak lama juga. Hanya selang satu tahun, setelah saya latihan panjat tebing pada tahun 1993, pada tahun 1994 saya sudah bisa mandiri hidup dari hadiah yang saya dapatkan selama mengikuti kejuaraan panjat tebing. Mulai dari Rp 75 ribu sampai yang jutaan rupiah.

Adakah kawan-kawan Anda seberuntung itu?
Oh ya.. Banyak juga dari Jawa Barat dan Riau. Apalagi, saat ini frekuensi kejuaraan panjat tebing sering digelar. Tahun depan ada SEA Games. Sebetulnya, kalau mau serius, dunia panjat tebing bisa dikatakan cukup menjanjikan. Meskipun, tidak sebesar bulu tangkis maupun tenis. Tapi, kalau untuk hidup, saya kira lebih dari cukup.

Anda sendiri bagaimana?
Saya sudah membuktikannya. Dari beberapa kejuaraan baik nasional maupun internasional yang saya ikuti, saya sekarang sudah bisa membangun rumah dan membiayai kehidupan sehari-hari termasuk membantu orang tua. Saya tidak perlu munafik, saya mendapat materi cukup dari olahraga ini.

Kalau boleh tahu, berapa sih hadiah uang yang pernah Anda dapatkan mulai dari terendah sampai tertinggi?
Kalau yang internasional, yang besar itu di Amerika. Waktu itu saya mendapat nomor satu atau medali emas, hadiahnya 11.000 US dollar. Yang terkecil, saya juga pernah mendapatkan hadiah 600 US dollar untuk juara satu tingkat Asia. Tahun 2004 ini, di kejuaraan dunia di Italia, saya meraih juara dua medapat medali perak plus hadiah uang 750 euro. Dibandingkan cabang olahraga lain memang terbilang kecil. Tapi, bagi saya itu sudah lebih dari cukup.

Kalau boleh tahu, dari mana Anda mendapatkan support dana untuk mengikuti kejuaraan dunia seperti itu?
Lebih banyak dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jarang sekali saya dibeayai pengurus pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Kadang-kadang sih ada dari FPTI, tapi yang paling sering dari pemerintah Yogya. Tapi, support dari luar itu baru saya dapatkan setelah saya berhasil merebut kejuaraan di tingkat nasional maupun internasional. Sebelum ini, saya sering keluar beaya sendiri. Jadi, pengalaman saya bisa dikatakan lengkap. Mulai dari naik kereta kelas ekonomi sampai naik pesawat sudah pernah saya jalani.

Tingginya tidak lebih dari 150 meter. Tubuhnya kurus. Warna kulitnya sawo matang. Raut mukanya terlihat keras, sekeras dunia yang ia geluti. Itulah karakter Eta yang lahir di Gunung Kidul, Yogyakarta, 11 Mei 1975. Muslimah yang tak pernah menanggalkan jilbabnya ini tak henti menorehkan tinta emas di berbagai kejuaraan panjat tebing bertaraf internasional. Kecepatannya menaklukkan dinding tebing dengan sudut kemiringan tersulit tak diragukan lagi. Tidak heran, jika sebagian temannya memanggilnya se-se, siluman laba-laba perempuan asal Cina yang dikenal dalam mitos cerita Kera Sakti.

Sampai kapan Anda akan bertahan di dunia ini?
Sampai kapanpun, selama saya masih kuat akan saya jalani. Ini bukan sekadar hobi, tapi sudah menjadi pilihan hidup saya. Karena, dari panjat tebing inilah saya bisa hidup dan dibesarkan seperti sekarang. Mungkin, nanti kalau saya hamil dan melahirkan, saya akan cuti. Tapi tidak lama, setelah itu saya akan terjun lagi.

Apa yang paling berkesan ketika Anda mengikuti kejuaraan dunia selama ini?
Yang paling terkesan, ketika saya merebut medali emas saat kejuaraan dunia di Amerika tahun 2000. Begitu lagu Indonesia Raya dikumandangkan, bendera Merah Putih dikerek dengan pelan-pelan dan berada di posisi teratas, tanpa sadar air mata saya meleleh. Saya sempat terbayang, waktu ikut upacara bendera di sekolah dulu, begitu lagu Indonesia Raya dikumandangkan, kami justru sering cengengesan. Tapi, di negeri orang rasa memiliki atas bangsa ini tiba-tiba muncul.

Semacam nasionalisme begitu?
Wah saya tidak tahu. Tapi yang jelas, jauh dari tanah air pasti memberikan kesan tersendiri yang mendalam. Apalagi, ada sesuatu yang sedang kita perjuangkan dan pertaruhkan. Ketika saya menangis bangga saat meraih kejuaraan, saya sempat berpikir apakah seperti ini rasanya para pejuang kemerdekaan dulu ketika berhasil mengusir penjajah? Ataukah lebih dari ini?. Pertaruhan saya mungkin hanya soal trophie, kalau gagal risikonya mungkin kecewa dan berharap pada kejuaraan nanti bisa lebih optimal. Tapi para pejuang kita itu pertaruhannya jauh lebih besar menyangkut nyawa dan kemerdekaan tanah yang dipijak.

Kesan lain? Ketika saya di Italia, meskipun saya hanya meraih medali perak dan yang dinyanyikan bukan lagu Indoensia Raya, tapi waktu itu saya sempat pegang bendera merah putih. Hati saya pun, langsung trenyuh, ada perasaan haru dan bangga bisa mengibarkan bendera Merah Putih di negeri orang, sementara di sebelah saya ada negara-negara besar seperti Rusia. Yang paling menarik adalah, begitu acara penyerahan hadiah usai dilangsungkan, banyak orang yang mengerubuti saya, meminta tanda tangan. Saya sempat terpikir, kayak artis saja. Ironisnya, begitu datang ke Indonesia, di Bandara itu jangankan ada yang menyambut, saya seringkali ditanya orang, mbak TKI (Tenaga Kerja Indonesia) ya?. Wah, saya jadi melas. Tapi, mungkin ada benarnya ya, wajah saya kan ndeso, mirip TKI.. ha... ha...

Pesan Anda untuk atlet panjang tebing yang lain?
Satu hal yang perlu dicatat, bahwa dalam dunia panjat tebing dibutuhkan mental yang kuat, selain juga soal fisik. Mental yang saya maksudkan itu adalah jangan pernah menyerah. Jangan pernah terpengaruh dengan tingginya tebing maupun sudut kemiringannya sesulit apapun. Kalau kaki dan tangan Anda sudah mencengkeram, hilangkan semua keragu-raguan. Anggap saja Anda sedang berjalan seperti di tanah datar. Sebab, begitu pertama kali sudah muncul keragu-raguan, bisa dipastikan Anda tidak akan sampai ke puncak.

Apakah ini filosofi panjat tebing?
Secara spesifik ya. Tapi, saya kira dalam proses kehidupan pada umumnya, pandangan semacam ini juga berlaku. Perlu kematangan dan kemantapan jiwa untuk memilih sesuatu hal yang kita anggap benar. Soal apakah akan berhasil atau gagal, itu persoalan lain. Tapi, Insya Allah kalau kita mau serius dan istiqomah, jalan itu selalu ada. Allah sendiri kan sudah bilang bahwa Dia tidak akan memberikan beban yang lebih berat kepada hamba-Nya, kecuali sesuai kemampuan yang dimiliki hamba-Nya. Tebing itu ciptaan Allah. Manusia hanya merekonstruksinya.

Apa obsesi Anda dalam dunia panjat tebing?
Saya bukan termasuk orang yang ambisius. Saya tidak pernah membuat target apapun dalam hidup ini. Semua saya jalani seperti biasa dan apa adanya. Mengalir seperti air sungai, dinamis seperti ombak laut dan terkadang perlu diam untuk refleksi seperti gunung.

Tidak ada rencana untuk memecahkan rekor MURI, misalnya, atau Guinnes Book?
Ndak lah. Saya menganggap Allah sudah memberikan terlalu banyak kepada saya. Biarlah saya menikmati karunia dan nikmat ini dengan syukur. Rekor yang perlu saya pecahkan saat ini adalah bagaimana saya secepat mungkin punya putra. Saya menikah pada tahun 2002, semoga nanti setelah PON XVI, Allah memberikan kesempatan kepada saya untuk memecahkan rekor itu. Doakan!

''Saya bukan termasuk orang yang ambisius. Saya tidak pernah membuat target apapun dalam hidup ini. Semua saya jalani seperti biasa dan apa adanya. Mengalir seperti air sungai, dinamis seperti ombak laut, dan terkadang perlu diam untuk refleksi seperti gunung.''

sumber: Republika





This article comes from Sabhawana.Com
http://portal.sabhawana.com/