Welcome to Sabhawana.Com
  Welcome Anonymous!  
Sep 10, 2010 

    

    Main Menuoem softwarecheap Adobe Acrobat
· Home
· My Account
· Administration
· Logout

Modules:
· News
· AvantGo
· Submit News
· Forum
· Gallery #1
· Gallery #2

Articles:
· Mountaineering
· Climbing
· Caving
· Rafting
· Diving

Others:
· Search
· Topics
· Top List
· Web Links
· Statistics
· Recommend Us
· Download

    

    Categories Menu
· Caving (Jun 03, 2010)
· Climbing (Nov 09, 2009)
· Cycling (Apr 01, 2009)
· diving (Dec 02, 2009)
· Mountain (Aug 18, 2010)
· National Park (Aug 10, 2010)
· Rafting (Oct 23, 2009)

    Past Articles
Thursday, June 10
·Vanaprastha Gelar Gerakan di Gunung Lawu (0)
Thursday, June 03
·Nguluran: Gua di bibir tebing (0)
Wednesday, June 02
·Maluku coral reefs need optimal management (0)
·Hutan Dirambah, Daftar Burung Langka Bertambah (0)
Wednesday, May 26
·Anak AS Berusia 13 Tahun Pendaki Termuda Everest (0)
 Older Articles

    
twitter

    
tnol

    Languages
Select interface language:

Chock dan Friend

(528 total words in this text)
(829 Reads)   Printer friendly page

Chock adalah alat yang digunakan dalam pemanjatan tebing yang dimasukkan ke celah batu dengan jari tangan sehingga terjepit dan dapat menahan beban dari arah tertentu. Bagi sementara pemanjat tebing, penggunaan chock lebih menarik dan menyenangkan dibandingkan piton. Alat ini ringan dan mudah dipasang dan dilepaskan, dan kadang-kadang memberikan pengaman yang lebih baik daripada piton (misalnya pada batuan lepas atau batuan serpih).

Ada yang berpendapat bahwa piton memisahkan manusia dengan alam. Pemakaian piton menyebabkan si pemanjat merasa dijauhkan dari tebing. Dengan piton, seorang pemanjat bisa melampaui tebing batu dengan sedikit keterampilan, sedikit seni dan sedikit ketakutan. Sedangkan chock seseorang ditantang untuk menggunakan seni sebagi pengganti pemaksaan dalam usaha memanjat tebing. Irama pemanjatan menjadi lebih alamiah, karena tidak terusik oleh suara dentingan piton dan palu. Penggunaan alat ini mempunyai dampak yang positif sehubungan dengan etika pemanjatan yang disebut pemanjatan bersih (clean climbing) karena cenderung mengurangi kerusakan pada tebing batu.

Secara garis besar chock mempunyai tiga bentuk yaitu bulat, segi enam dan baji. Chock yang berbentuk baji disebut pula stopper, sedangkan chock yang berbentuk segi enam disebut juga hexentrik atau hex.

Untuk menghubungkannya dengan karabiner, chock dilengkapi dengan sebuah ikalan (loop) tali, pita webing, atau kabel kawat. Panjang ikalan ini ditentukan berdasarkan tujuan dan selera pribadi si pemanjat tebing. Ikalan yang panjang biasanya digunakan untuk chock yang berukuran besar, dan ini baik untuk pemanjatan bebas (free climbing), karena dapat memenuhi kebutuhan dalam sistem penempatan runner yang benar. Ikalan panjang memudahkan si pemanjat membawa chock itu dengan mengalungkannya dileher.

Ikalan pendek pada chock terutama menguntungkan dalam pemanjatan artifisial, karena si pemanjat tebing dapat berdiri lebih tinggi dan dekat dengan chock sebagai titik tumpuannya. Kendati masing-masing mempunyai kekurangan dan kelebihannya, tetapi baik ikalan panjang maupun ikalan pendek dapat disesuaikan dengan kebutuhan pada saatnya. Ikalan panjang (terutama dari tali dan webing) dapat dipendekkan dengan pembuatan simpul, sedangkan ikalan pendek dapat diperpanjang dengan menggunakan runner tambahan (karabiner atau webing).

Ikalan chock dengan tali kelihatannya lebih indah, karena lubang tersedia memang untuk ukuran tali. Akan tetapi chock dengan webing menguntungkan dalam pemakaiannya, karena bisa menyelip dicelah batu yang sempit. Tali dan webing kekuatannya kira-kira sama. Tetapi karena perrmukaannya lebih lebar maka webing lebih gampang tergesek batu sehingga kekuatannya dapat berkurang.
Chock dengan ikalan dari kabel kawat mempunyai beberapa keuntungan dibanding dengan chock berikalan tali atau webing. Chock berikalan kabel kawat lebih mudah diletakkan dan dilepaskan dari dalam celah. Selain itu karena kaku dan keras, chock berikalan kabel kawat bisa diletakkan dicelah batu beberapa centimeter lebih tinggi dari daya

jangkau tangan seorang pemanjat tebing. Kelemahan chock ini adalah mudah lepas oleh sentakan tali ke arah yang tidak tepat atau sesuai dengan arah semestinya.
Sering kali pemanjat tebing tidak bisa menemukan ukuran chock yang tepat untuk pelbagai celah batu, kendati dia telah membawa chock pilihan. Chock memang tidak dapat digunakan disetiap celah batu. Berdasarkan keterbatasan ini, maka diciptakanlah sebuah alat penjepit yang disebut friend. Kelebihan dari alat ini adalah dapat menyesuaikan ukuran bentuknya agar bisa digunakan pada berbagai celah batu.

Friend mampu memperingan beban si pemanjat tebing. Akan tetapi ada pula yang berpendapat bahwa alat ini adalah suatu kemunduran, karena pemakainnya hanya membutuhkan sedikit perasaan dan keterampilan sama seperti piton. Dianjurkan agar memantapkan penempatan pengaman chock terlebih dahulu, sebelum memutuskan memakai friend.

Sumber : mendaki gunung “Norman Edwin”
  

[ Back to Climbing | Sections index ]



Web site powered by Ekowisata Natural
This web site was made with PostNuke, a web portal system written in PHP. PostNuke is Free Software released under the GNU/GPL license.
You can syndicate our news using the file backend.php